Kenali Profesi Untuk Lulusan Ahli K3 Umum

05 Februari 2021

Saat kita mendatangi lokasi-lokasi pembangunan proyek tak jarang kita disambut dengan himbauan “Utamakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja”. Apa sih maksud dari himbauan tersebut?
Himbauan tersebut adalah himbauan keamanan dalam bekerja agar terhindar dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Himbauan tersebut merupakan salah satu hal yang wajib diterapkan oleh semua perusahaan. Sesuai yang tertuang dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 pasal 87 tentang himbauan Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau yang sering disingkat K3. Oleh karena itu, saat ini bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah bagian yang penting dalam sebuah perusahaan.
Seseorang yang bekerja pada bidang K3 bertugas menjamin dan melindungi keselamatan serta kesehatan tenaga kerja melalui berbagai upaya. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah tindakan pencegahan kecelakaan seperti kebakaran, cedera ataupun hal-hal lain yang mungkin bisa membahayakan dan merugikan.
Selain itu seseorang yang bekerja di bidang K3 harus mengerti ilmu K3 yang saat ini sudah tersedia di beberapa universitas. Namun Anda juga dapat mengambil sertifikasi seperti program Pembinaan Calon Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker Ri yang akan mencetak Anda menjadi seorang Ahli K3 Umum. Jika Anda sudah memiliki sertifikasi, bayaran atau gaji yang didapatkan juga akan lebih tinggi lho!
Dikutip dari katigaku.top, gaji pekerja K3 di beberapa sektor seperti konstruksi dan tambang hampir di atas 10 juta/bulan. Ini adalah gaji mereka yang sudah memiliki masa kerja di atas 5 tahun. Bahkan untuk sektor migas, mereka yang memiliki pengalaman di atas 5 tahun akan mendapatkan gaji minimal 65 juta rupiah dan maksimal 85 juta rupiah per bulannya. Menarik bukan?
 
Nah, apa sajakah prospek profesi bagi Anda yang sudah memiliki Sertifikasi Calon Ahli K3 Umum?
 
Safety Officer/Safety Staff/Safety Engineer
Seorang safety officer berkewajiban untuk memastikan seluruh pekerja yang berada dalam lingkungan kerja, bekerja dengan kondisi yang terjamin keamanan dan kesehatannya. Selain itu, safety officer juga wajib mengidentifikasi dan meminimalisir risiko bahaya yang mungkin muncul di lingkungan kerja.
Profesi ini lebih berperan dalam pembangunan sistem manajemen K3 pada sebuah perusahaan. Mereka biasanya ahli dalam implementasi Sistem Manajemen K3 ataupun ISO 45001. Untuk itu, menjadi seorang Safety Officer Anda disarankan untuk mengikuti Pembinaan Calon Ahli K3 Umum terlebih dahulu, seperti yang di selenggarakan oleh PT. Narada Katiga Indonesia.
Standar aplikasi K3 pada setiap perusahaan memang sebagian besar hampir sama. Namun, pekerjaan serta tanggung jawab safety officer dapat disesuaikan dengan bidang perusahaan tersebut apakah perusahaan tersebut bergerak di bidang konstruksi, tambang, migas, dll.
Safety Coordinator/Safety Leader
Safety coordinator atau leader biasanya dibawahi langsung oleh seorang manajer. Semua pekerjaan terkait keselamatan dan kesehatan kerja akan dikoordinasikan bersama dengan manajer. Apa saja tugas dan tanggung jawab seorang Safety Coordinator?
Safety Coordinator harus memastikan bahwa perusahaan secara efektif melaksanakan program K3. Dalam prakteknya, Coordinator harus mengecek prinsip plan, do, check, dan act berjalan secara efektif. Selain itu, Coordinator juga harus mengintegrasikan prinsip K3 ke dalam praktek manajemen standar perusahaan.
Seorang safety coordinator harus melibatkan semua unsur dalam perusahaan agar program K3 dapat berjalan secara efektif.
Tugas Safety Coordinator lainnya adalah mengelola kinerja perusahaan agar tetap stabil, dengan melakukan langkah-langkah yang mendukung peningkatan kinerja, dengan menciptakan sistem, budaya, praktek kerja yang aman, evaluasi proses K3.
Safety Coordinator juga perlu melakukan analisa risiko kerja dalam perusahaan. Dengan memetakan:
Apa saja potensi bahaya dalam perusahaan?
Siapa saja yang paling rentan mengalami masalah kesehatan dan kecelakaan kerja?
Bagaimana proses untuk mengelola risiko itu?
Safety Technician/ Teknisi Keselamatan/ HSE
Safety Technician fokus bekerja menangani K3 yang berada dalam proses operasional serta mengembangkan budaya K3 melalui penerapan aktif di lokasi. Dengan kata lain, seorang Safety Technician lebih sering ditugaskan untuk memastikan semua alat dan fasilitas yang digunakan sudah memenuhi aspek K3. Terkadang seorang safety technician juga harus mampu melakukan uji laboratorium dan lapangan untuk memantau lingkungan. Bagian penting dari pekerjaan mereka adalah mengoordinasikan program kesehatan dan keselamatan yang ada untuk instalasi. Mereka juga memastikan kepatuhan terhadap undang-undang, peraturan, dan standar keselamatan dan lingkungan kerja baik di dalam maupun di luar pabrik. Safety technician membantu memastikan kondisi kerja yang baik untuk rekan kerja mereka.
Tugas Safety Technician meliputi:
Inspeksi, audit, penilaian, dan pertemuan keselamatan
Identifikasi/analisis/penilaian risiko
Investigasi /pelaporan insiden
Berhubungan dengan kepemimpinan keselamatan di tempat
Membantu dalam pengembangan dan penyebaran program K3
Mengembangkan budaya K3 yang kuat di dalam lingkungan kerja
Berpartisipasi dalam semua aspek HSE untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan nasional dan standar lokal dan internasional
Memberikan arahan, kepemimpinan, interpretasi data keselamatan, dan bantuan teknis kepada rekan kerja
Corporate Safety
Perusahaan-perusahaan yang memiliki banyak pabrik atau cabang di sebuah Negara atau area biasanya akan memiliki orang yang bekerja sebagai corporate safety. Mereka bertanggung jawab untuk membuat standar keselamatan kerja untuk seluruh pabrik, melakukan audit ke pabrik, mengadakan training, merumuskan target, dan mengumpulkan laporan keselamatan dan kesehatan kerja dari seluruh pabrik untuk dapat dianalisa.
Job desk yang sangat padat dan mobilitas yang tinggi menuntut seorang corporate safety harus memiliki stamina fisik yang baik, keterampilan berpikir kritis, dan melek teknologi. Yang paling penting diperlukan untuk menjadi corporate safety diantaranya memiliki pengetahuan tentang K3 termasuk ISO, memiliki pribadi yang patuh atau disiplin, dan mampu menyususun program keselamatan perusahaan. Kemampuan seperti ini sangat membantu ketika harus melakukan tanggung jawab pekerjaan yang penting.
Pada umunya corporate safety dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan di bidang industri manufaktur dan konstruksi.
Process Safety Engineer
Seorang Process Safety Engineering harus bisa mendeteksi potensi hazard di suatu fasilitas, menentukan sumbernya, mengkalkulasi probabilitas events, hingga menyajikan laporan mitigasi. Process Safety Engineer dibagi menjadi 2 sub-bidang: Loss Prevention dan Risk Assessment. Dua ilmu ini memiliki karakter yang berbeda namun keduanya sama-sama dibutuhkan agar safety goal dapat tercapai. Loss Prevention bertujuan mencegah kehilangan/kerugian aset, baik itu manusia, equipment, lingkungan maupun uang. Sementara Risk Assessment lebih kepada memprediksi secara quantitatif dan simulatif kemungkinan suatu hazard akan menciptakan accident.
Selain hal di atas, seorang process safety engineer harus mampu untuk merancang flare/vent stack berdasarkan tingkat radiasi ataupun gas buang, menganalisa potensi hazard (terbentuknya api/ledakan) dari suatu kebocoran pipa, vessel atau sistem pembuangan seperti dispersi gas buang dari flare/vent. Pekerjaan-pekerjaan ini biasanya akan dibantu oleh tools engineering software guna mempermudah pekerjaan.
Dengan kata lain, seorang process safety engineer bertugas untuk memastikan proses produksi dari bahan mentah ke bahan jadi yang melalui berbagai macam proses berjalan aman. Biasanya para lulusan Teknik Kimia paling cocok untuk mengisi posisi ini.
Safety Superintendent
Mereka yang bekerja sebagai safety superintendent adalah mereka yang sangat berpegalaman dalam sistem dan teknis terkait dengan keselamatan kerja. Tanggungjawab seorang safety superintendent antara lain :
Memastikan berjalannya implementasi pengelolaan dan pemantauan lingkungan kerja sesuai dengan aturan yang berlaku maupun program yang telah ditetapkan oleh perusahaan
Menjalin koordinasi, melakukan pengawasan serta memberikan arahan maupun instruksi kepada pihak mitra kerja yang memiliki tanggung jawab untuk melakukan pengelolaan lingkungan kerja
Melakukan development sistem K3 di area kerja yang mengacu pada Standar Manajemen K3 serta menyiapkan perangkat elemen dan sub-elemennya.
Menyusun target, sasaran dan program K3.
Membuat perencanaan, mengarahkan serta mengontrol proses implementasi sistem K3 diperusahaan.
Permit To Work Coordinator
Mereka yang menempati posisi ini bertugas untuk mengkoordinasikan semua aktivitas terkait dengan izin kerja. Mereka harus melakukan administasi yang rapih dan memastikan semua pekerjaan yang membutuhkan izin telah memenuhi aspek keselamatan dan kesehatan kerja. Tugas lainnya di antaranya :
Memastikan semua aktivitas kerja yang sedang berlangsung sudah memiliki izin yang sah
Melakukan pertemuan dan diskusi dengan manajemen puncak tentang perencanaan kerja dan regulasi dan standar perizinan
Melakukan koordinasi dan presentasi tentang perencanaan pekerjaan sebelum memulai
Memberikan saran terkait standar/regulasi kepada seluruh supervisor dan karyawan yang terkait dengan pekerjaannya
Safety Advisor
Mereka yang bekerja sebagai safety advisor dibutuhkan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan kerja di suatu tempat kerja atau perusahaan. Safety advisor biasanya tidak bertanggung jawab langsung terhadap tingkat keselamatan dan kesehatan kerja di suatu tempat kerja.
Selain itu seorang safety advisor juga bertugas untuk membantu mengintegrasikan prinsip K3 ke dalam praktek manajemen standar perusahaan. Membantu dalam penyusunan kebijakan yang tepat, proses yang efektif, orang yang kompeten, serta budaya kerja yang benar. Sehingga semua pihak dapat ikut berkontribusi dalam penciptaan lingkungan kerja yang aman. Penting diingat, bahwa kesuksesan pelaksanaan program K3 ini hanya dapat dilakukan bersama-sama. Melibatkannya secara efektif akan membuat proses pelaksanaannya menjadi lebih dinamis dan konstruktif.
Selain itu safety advisor juga bertugas untuk melakukan advisor terhadap rekan kerja sekaligus membuat Standar Operation Prosedur (SOP), Job Safety Analisis (JSA), Instruksi Kerja (IK) dibidang keselamtan kerja dan kesehatan kerja serta mengkomunikasikan kepada pekerja yang terkait dengan pekerjaan masing-masing. Tak jarang mereka juga bertanggungjawab untuk membuat program pelatihan K3 untuk pekerja dan memonitor pelaksanaannya agar berjalan sesuai dengan yang direncanakan.
Safety Auditor
Seorang safety auditor bertugas untuk melakukan pengamatan kritis dan sistematis terhadap penerapan yang menyangkut aspek Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk mencari Kelemahan Sistem dan langkah perbaikannya sebelum timbul kecelakaan/kerugian. Hal tersebut dilakukan untuk menentukan efektifitas program K3 perusahaan, dan mengukur upaya pencegahan kerugian. Untuk menjadi seorang safety auditor biasanya diperlukan sertifikasi sebagai seorang auditor bidang K3. Mereka yang bekerja sebagai safety auditor biasanya sudah memiliki pengalaman yang panjang terkait implementasi manajemen K3. Merekalah yang akan mengecek kesesuaian praktek di lapangan dengan prosedur, standar, dan regulasi yang berlaku.
Safety Inspector
Profesi ini bisa disebut juga “polisi keselamatan kerja”. Mereka bertugas untuk menjaga keselamatan pekerja/karyawan dan juga menjaga peralatan/aset perusahaan. Seorang safety inspector biasanya akan berkeliling di seluruh area kerja secara berkala dan akan memberikan tindakan kepada setiap pelanggaran terkait keselamatan dan kesehatan kerja yang di dapatkan. Selain itu, seorang safety inspector juga harus menerapkan berbagai upaya preventif dalam rangka mencegah kecelakaan yang dapat berakibat fatal khususnya yang timbul dari kegiatan atau aktifitas kerja. Seorang safety inspector juga memiliki wewenang untuk memberhentikan kegiatan jika terjadi kondisi bahaya dan tidak sesuai dengan prosedur K3.
Fire Safety
Tugasnya terfokus pada pencegahan dan mitigasi resiko kebakaran. Mereka juga menangani masalah perilaku manusia terhadap api dan pengaturan lingkungan hidup manusia (rumah, bangunan, gedung dll) untuk memudahkan manusia evakuasi dari kebakaran. Selain itu mereka bertugas untuk menerapkan teknik proteksi kebakaran yang fokus pada metode identifikasi potensi dan sistem deteksi kebakaran, metode mitigasi kebakaran dan teknik penanggulangan atau pemadaman kebakaran. Seorang fire safety dituntut mampu melakukan pencegahan dan penyelamatan. Upaya pencegahan biasanya dilakukan dengan mengedukasi rekan kerja lain tentang bagaimana cara mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin. Sementara, untuk menerapkan tindakan penyelamatan, fire safety bersama petugas pemadam kebakaran terkait biasanya secara rutin mengadakan simulasi penanggulangan bahaya kebakaran di perusahaan.
Untuk itu seorang fire safety diharuskan dapat berkoordinasi dengan pihak instansi pemadam kebakaran dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Agar dapat memastikan semua proteksi kebakaran baik aktif maupun pasif siap sedia untuk digunakan jika terjadi kebakaran. Mereka juga ditugaskan untuk membentuk tim tanggap kebakaran sebagai bentuk pencegahan dan penyelamatan.
Scaffolder/Ahli Perancah
Scaffolder wajib sekali memperhatikan konstruksi scaffolding. Scaffolding adalah salah satu keperluan dalam konstruksi bangunan yang memiliki risiko berbahaya jika tidak dipasang secara presisi. Menganggap enteng pemasangan scaffolding sama halnya dengan menganggap enteng keamanan area kerja dan keselamatan para pekerja konstruksi. Itu sebabnya, terdapat tim khusus yang dipekerjakan untuk memantau proses penginstalan hingga inspeksi rutin pada scaffolding.
Cara menyusun scaffolding dengan tepat dan aman juga perlu diketahui dengan baik dan detail. Supaya menghindari kesalahan pemasangan struktur yang bisa menyebabkan scaffolding rapuh. Untuk itu diperlukan tim Scaffolder khusus yang bisa hadir memantau dan menghitung keperluan scaffolding.
Tim ini dikenal dengan sebutan scaffolder. Tim scaffolder biasanya terdiri dari Inspector, Supervisor, Foreman, Skill, dan Helper. Tidak sembarang orang bisa menjadi tim scaffolder, Anda harus melalui pelatihan terlebih dahulu untuk bisa memiliki sertifikasi di bidang tersebut. Tugas scaffolder juga dibuat berdasarkan regulasi dan punya payung hukum, yaitu Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. PER. 01/MEN/1980 tentang Keselamatan & Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan.
Apa saja tanggungjawab seorang scaffolder?
Menginspeksi Scaffolding
Scaffolder tidak hanya bertanggung jawab saat pemasangan scaffolding di awal proses konstruksi. Mereka juga perlu melakukan inspeksi secara rutin dan berkala terhadap scaffolding dan perangkat perlindungan lainnya di area konstruksi. Scaffolder wajib mengecek posisi-posisi setiap scaffolding yang sudah terpasang, apakah masih sesuai atau terjadi pergeseran.
Mencegah Kerugian Kerja
Mereka bertanggung jawab memantau kondisi scaffolding dan praktik keselamatan kerja selama proses konstruksi. Kerugian kerja yang dapat dihindari bisa berupa kerugian waktu maupun materil, seperti pemasangan ulang scaffolding jika terjadi kecelakaan kerja atau scaffolding roboh karena menanggung bobot yang melebihi batas maksimumnya.
Tepat Waktu
Scaffolder harus dapat menjaga jadwal kerja agar tetap sesuai dengan target penyelesaian. Ketika scaffolder menemukan kendala atau permasalahan di area konstruksi selama inspeksi, mereka diharuskan untuk langsung mengatasi hal tersebut sehingga masalah tidak berlarut-larut. Selain itu, scaffolder diharuskan untuk dapat mendeteksi dengan akurat penyebab dari lambatnya proses pengerjaan konstruksi, misalnya seperti kendala pada sistem scaffolding yang dipasang atau masalah teknis lainnya. Masalah tersebut harus segera scaffolder tangani sehingga tempo pengerjaan bisa dikembalikan seperti semula dan pembangunan tetap dapat selesai tepat waktu.
Singkatnya seorang scaffolder adalah orang yang memastikan perancah dibangun dengan aman dan desain yang sudah sesuai dengan standar keamanan perancah.
Ahli Ergonomik
Mereka memiliki tugas untuk melakukan penilaian menyeluruh terkait dengan beban dan frekuensi sebuah aktifitas pekerja. Mereka akan melakukan penyesuaian tempat kerja agar pekerja dapat bekerja senyaman mungkin tanpa adanya beban berlebih di sendi-sendi mereka.
Menjadi seorang ahli ergonomi selain bertugas untuk menyesuaikan beban kerja dengan kondisi tubuh tiap pekerja, mereka juga harus mengerti dan memiliki kemampuan menganalisa apa yang harus ia lakukan dengan beban kerja seseorang dan lingkungan kerja seperti apa yang seharusnya diterapkan untuk menghindari risiko cidera akibat kerja. Risiko cidera akibat kerja pada pekerja biasanya diakibatkan karena kurangnya penanganan secara safety atau kurang memperhatikan faktor ergonomi, sehingga menimbulkan cidera berupa, low back pain, cidera otot, dll. Cidera tersebut biasanya terjadi karena ketidakmampuan atau keteledoran dari pekerja untuk menentukan sikap tubuh yang baik dan juga karena perusahaan tidak memperhatikan aspek ergonomic pekerjanya, sehingga merugikan kedua belah pihak. Maka seorang ahli ergonomi harus mengetahui teknik yang tepat yang disesuaikan dengan beban kerja pekerja, serta lingkungan kerja, sehingga perusahaan terhindar dari kerugian kerja, pekerja pun menjadi lebih aman.
Ahli ergonomic biasanya sangat diperlukan pada perusahaan yg berkaitan dengan teknik industri (karena ergonomi merupakan bagian dari teknik industri), teknik mesin (karena sering berkaitan dengan desain fisik walaupun tidak selalu fisik), safety engineering dan occupational safety health/K3 (karena fokus utama ergonomi adalah keselamatan dan kesehatan kerja), SDM (karena produktivitas dan kualitas kerja menjadi salah satu sasarannya), bioteknologi, kedokteran okupasi, psikologi (karena selain fisik manusia, ergonomi juga concern terhadap karakteristik atau kapasitas non fisik manusia dalam desain misalnya kognitif) dsb.
Ahli K3 Rumah Sakit
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Kesehatan, Pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus diselenggarakan di semua tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. Jika memperhatikan isi dari pasal di atas maka jelaslah bahwa Rumah Sakit (RS) termasuk ke dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan, tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di RS, tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung RS. Sehingga sudah seharusnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya K3 di RS.
Potensi bahaya di RS, selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi bahaya-bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di RS, yaitu kecelakaan (peledakan, kebakaran, kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik, dan sumber-sumber cidera lainnya), radiasi, bahan-bahan kimia yang berbahaya, gas-gas anastesi, gangguan psikososial dan ergonomi. Semua potensi bahaya tersebut di atas, jelas mengancam jiwa dan kehidupan bagi para karyawan di RS, para pasien maupun para pengunjung yang ada di lingkungan RS.
Untuk itu setiap rumah sakit yang menerapkan K3 rumah sakit diwajibkan memiliki unit fungsional K3RS yang memiliki kualifikasi paling rendah S1 bidang keselamatan dan kesehatan kerja, atau tenaga kesehatan lain dengan kualifikasi paling rendah S1 yang memiliki kompetensi di bidang K3RS. Hal ini sesuai dengan pasal 26 ayat 2 PMK 66 tahun 2016.
Tujuan penerapan K3RS adalah untuk menciptakan suatu sistem kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit dengan melibatkan unsur manajemen, karyawan, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Siapa saja yang bisa menjadi Ahli K3 Rumah Sakit?
Anggota P2K3.
Manajer dan supervisor.
Dokter dan Petugas medis lainnya.
Human resources managers.
Dan lainnya yang bertanggung jawab dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit.
Industrial Hygiene
Industrial Hygiene adalah ilmuwan, teknisi, dan profesional kesehatan masyarakat yang berkomitmen untuk melindungi kesehatan orang di tempat kerja. Industrial Hygiene harus berkompeten dalam beberapa bidang ilmu, baik itu kimia, teknik, fisika, toksikologi, dan biologi, termasuk dasar kesehatan kerja. Seorang Industrial Hygiene tidak cukup dilatih dengan satu bidang ilmu saja namun diperlukan juga pengalaman untuk dapat mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu.
Dalam organisasi industri tradisional, Industrial Hygiene termasuk ke dalam personil yang bekerja dalam bidang riset dan pengembangan, medis, manajemen, keselamatan, atau produksi. Pada era organisasi saat ini, Industrial Hygiene bertindak sebagai profesional keselamatan dan lingkungan. Untuk memudahkan pelaksanaan dalam organisasi, Industrial Hygiene diharapkan tidak hanya mengerti tentang masalah teknik dan sains, tetapi juga mengerti tentang manajemen. Industrial Hygiene terlibat dalam pekerjaan antar bidang yang melibatkan keahlian seluruh personil untuk mewujudkan dan memelihara lingkungan kerja yang sehat. Industrial Hygiene juga berkontribusi dalam pendidikan dan pelatihan pekerja, pertanggungjawaban hukum dan produk, pemasaran, pelabelan, dan informasi publik. Dalam prakteknya, Industrial Hygiene sering dikaitkan dengan profsi fisikawan, perawat, paramedis, dan petugas kedaruratan medis.
Industrial Hygiene memiliki tugas yang mirip dengan petugas keselamatan. Industrial Hygiene mempelajari tentang insiden, menyiapkan rekomendasi dan laporan, mempelajari proses dan mesin baru, sudut pandang kesehatan atau keselamatan, melakukan promosi kesehatan kerja, menyelenggarakan pendidikan tentang keselamatan, memberikan masukan kepada manajemen tentang bahaya kesehatan, melakukan higiene industri, menyusun prosedur dan perlengkapan yang diperlukan.
Industrial Hygiene merupakan bagian dari keselamatan dan kesehatan kerja yang memiliki fungsi melakukan antisipasi, rekognisi, evaluasi, dan pengendalian terhadap bahaya kesehatan kerja/ faktor lingkungan kerja atau stress, yang timbul di atau dari tempat kerja, yang dapat menyebabkan sakit, gangguan kesehatan dan kehidupan, atau ketidaknyamanan yang berarti dan ketidakefisienan pada pekerja.
Dengan kata lain mereka bertugas untuk memastikan semua aspek fisika, kimia, dan biologi disebuah lingkungan kerja berada dalam kondisi yang sehat. Mereka sangat ahli dalam menggunakan peralatan pengukuran seperti bising, pencahayaan, getaran, indoor air quality, dll
ASN (Aparatur Sipil Negara)
Kementrian Tenaga Kerja di pusat dan di dinas ketenagakerjaan setiap provinsi yang memang tuganya adalah menangani permasalahan terkait dengan K3. Hal ini membuka peluang bagi para alumni ahli K3 untuk menjadi ASN. Selain di Kemnaker, seorang ahli K3 juga dibutuhkan di banyak kementrian dan instansi lainnya seperti Kemenkes, Kementrian PUPR, dll.
Nah, bagaimana, menarik bukan? Sudah menentukan ingin berbrofesi sebagai apa? Atau masih ada nama profesi keselamatan dan kesehatan kerja yang terlewat? Semoga tulisan ini membantu Anda untuk mengetahui prospek lulusan K3.

Hallo !

Pilih salah satu tim Marketing kami

Marketing Nira Sekar
6281392457755
Marketing Lala Zhaveera
628113552471
PT Narada Katiga Nusantara
Hai, apakah membutuhkan informasi?
×
Membutuhkan informasi?